Friday, 29 March 2013

Atomic Line Filter (ALF)

An atomic line filter (ALF) is an advanced optical band-pass filter used in the physical sciences for filtering electromagnetic radiation with precision, accuracy, and minimal signal strength loss. Atomic line filters work via the absorption or resonance lines of atomic vapors and so may also be designated an atomic resonance filter (ARF). The three major types of atomic line filters are absorption-re-emission ALFs, Faraday filters and Voigt filters. Absorption-re-emission filters were the first type developed, and so are commonly called simply "atomic line filters"; the other two types are usually referred to specifically as "Faraday filters" or "Voigt filters". Atomic line filters use different mechanisms and designs for different applications, but the same basic strategy is always employed: by taking advantage of the narrow lines of absorption or resonance in a metallic vapor, a specific frequency of light bypasses a series of filters that block all other light. Atomic line filters can be considered the optical equivalent of lock-in amplifiers; they are used in scientific applications requiring the effective detection of a narrowband signal (almost always laser light) that would otherwise be obscured by broadband sources, such as daylight. They are used regularly in Laser Imaging Detection and Ranging (LIDAR) and are being studied for their potential use in laser communication systems. Atomic line filters are superior to conventional dielectric optical filters such as interference filters and Lyot filters, but their greater complexity makes them practical only in background-limited detection, where a weak signal is detected while suppressing a strong background. Compared to etalons, another high-end optical filter, Faraday filters are significantly sturdier and may be six times cheaper at around US$15,000 per unit.

Line integral of scalar field

A scalar field has a value associated to each point in space. Examples of scalar fields are height, temperature or pressure maps. In a two-dimensional field, the value at each point can be thought of as a height of a surface embedded in three dimensions. The line integral of a curve along this scalar field is equivalent to the area under a curve traced over the surface defined by the field. In this animation, all these processes are represented step-by-step, directly linking the concept of the line integral over a scalar field to the representation of integrals familiar to students, as the area under a simpler curve. A breakdown of the steps: The color-coded scalar field f and a curve C are shown. The curve C starts at a and ends at b The field is rotated in 3D to illustrate how the scalar field describes a surface. The curve C, in blue, is now shown along this surface. This shows how at each point in the curve, a scalar value (the height) can be associated. The curve is projected onto the plane XY (in gray), giving us the red curve, which is exactly the curve C as seen from above in the beginning. This is red curve is the curve in which the line integral is performed. The distances from the projected curve (red) to the curve along the surface (blue) describes a "curtain" surface (in blue). The graph is rotated to face the curve from a better angle The projected curve is rectified (made straight), and the same transformation follows on the blue curve, along the surface. This shows how the line integral is applied to the arc length of the given curve The graph is rotated so we view the blue surface defined by both curves face on This final view illustrates the line integral as the familiar integral of a function, whose value is the "signed area" between the X axis (the red curve, now a straight line) and the blue curve (which gives the value of the scalar field at each point). Thus, we conclude that the two integrals are the same, illustrating the concept of a line integral on a scalar field in an intuitive way.

Thursday, 28 March 2013

Peran Kurikulum dan Kualitas Guru dalam Pendidikan

PENDIDIKAN di indonesia sampai saat ini masih bermasalah.Ada yang berpendapat masalah pendidikan disebabkan kurikulum(yang selalu berubah),guru yang tidak juga memenuhi kompetensi yang diinginkan,dana yang dialokasinya tidak sesuai(minim),sarana prasarana yang kurang memadai,juga dilema ujian nasional(UN) yang meresahkan. Menurut data yang ada,sejak kemerdekaan indonesia,kurikulum pendidikan dasar dan menengah sudah mengalami sepuluh kali perubahan.Perubahan kurikulum terus-menerus dilakukan tidak lain dalam rangka penyempurnaan demi menghasilkan lulusan yang berkompeten. Perubahan kurikulum yang terakhir adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan(KTSP) 2006 yang sudah diberlakukan selama 6 tahun.Terlepas dari sudah ada atau belumnya evaluasi KTSP 2006 oleh pemerintah,menurut Wakil Presiden Boediono dalam tulisannya yang bertajuk Pendidikan Kunci Pembangunan,pendidikan di indonesia ternyata belum menghasilkan lulusan yang kompeten karena tidak mempunyai konsep yang jelas. Kemudian lahirlah kurikulum terbaru yang disebut kurikulum 2013,yang mungkin lebih jelas konsepnya sehingga bisa benar-benar menghasilkan lulusan sesuai dengan yang diinginkan. Perubahan kurikulum sendiri terkadang meresahkan para guru. keresahan tersebut muncul karena belum jelasnya sosialisasi terkait pelaksanaan kurikulum terbaru dan tidak adanya informasi tentang dasar perubahan kurikulum.Selain itu, guru juga mengalami ketidaknyamanan ketika baru bisa menerapkan kurikulum terdahulu, ternyata harus kembali mempelajari dan mungkin mengembangkan kurikulum terbaru. Alih-alih meningkatkan proses transfer ilmu ke peserta didik, guru kebingunn sendiri menfransfer ilmu baru(kurikulum baru) ke dalam pengetahuannya sendiri. Seharusnya ada kebijaksanaan yang dilaksanakan pemerintah dalam pembenahan pendidikan,khususnya masalah kurikulum.waktu yang relatif singkat dalam pemberlakuan satu kurikulum belum bisa menjadi jaminan kurikulum yang diberlakukan tersebut tidak berhasil.Pembenahan kurikulum hendaknya menjadi hal yang benar-benar menjadi perhatian pemerintah,dalam hal masa pemberlakuan,evaluasi pelaksanaan,dan kejelasan hasil evaluasi yang disampaikan secara terbuka.

Manfaat Buah Naga

Buah naga merupakan buah yang indah dengan warna intens dan bentuk serta dengan bunga yang mempesona.Biasanya buah ini berwarna merah gelap,itu juga dapat ditemukan dalam warna kuning atau merah muda.Kulit buah ini ditutupi dengan sisik hijau besar. Buah naga mempunyai khasiat yang bermanfaat bagi kesehatan manusia diantaranya sebagai penyeimbang kadar gula darah, pelindung kesehatan mulut,pencegah kanker usus,mengurangi kolestrol,pencegah pendarahan dan mengobati keluhan keputihan. Biasanya buah naga dikonsumsi dalam bentuk buah segar sebagai penghilang dahaga,karena buah naga mengandung kadar air tinggi sekitar 90% dari berat buah.Rasanya cukup manis karena mengandung kadar gula mencapai 13-18 briks.Buah naga juga dapat disajikan dalam bentuk jus,sari buah,manisan maupun selai atau beragam bentuk penyajian sesuai selera anda. Menurut AL Leong dari Jhoncola Pitaya Food R&D,organisasi yang meneliti buah naga merah,buah kaktus madu itu cukup kaya dengan berbagai zat vitamin dan mineral yang sangat membantu meningkatkan daya tahan dan bermanfaat bagi metabolisme dalam tubuh manusia. "Penelitian menunjukan buah naga merah ini sangat baik untuk sistem peredaran darah,juga memberikan efek mengurangi tekanan emosi dan menetralkan toksik dalam darah."Penelitihan juga menunjukkan buah ini bisa mencegah kanker usus,selain mencegah kandungan kolesterol yang tinggi dalam darah dan menurunkan kadar lemak dalam tubuh," Secara keseluruhan,setiap buah naga merah mengandung protein yang mampu meningkatkan metabolisme tubuh dan menjaga kesehatan jantung;serat(mencegah kanker usus,kencing manis dan diet);karotin(kesehatan mata,menguatkan otak dan mencegah masuknya penyakit),kalsium(menguatkan tulang). Buah naga juga mengandung zat besi untuk menambah darah;B1 (mencegah demam badan);vitamin B2 (menambah selera);vitamin B3(menurunkan kadar kolesterol) dan vitamin C ( menambah kelicinan,kehalusan kulit serta mencegah jerawat).

Wednesday, 27 March 2013

Bayi Hiu Berkepala Dua

Peneliti kelautan di Michigan State University, Michael Wegner, mengonfirmasi untuk pertama kalinya menemukan bayi hiu benteng (bull shark) berkepala dua. Ia memastikan, ini bukan dikarenakan kembar siam, melainkan adanya kelainan genetik. Menurut Wegner, spesimen bayi hiu tersebut ditemukan di Teluk Meksiko pada 2011 yang lalu. Penemuan ini merupakan contoh anatomi dengan dua kepala menyatu (dicephalus) tercacat pertama dari sejarah hiu benteng. “Ini merupakan fenomena menarik yang jarang terdeteksi. Oleh karena itu kami mendokumentasikannya sebagai bagian dari sejarah alam di dunia. Tapi, kami perlu menemukan hal seperti ini lebih banyak lagi agar dapat menarik kesimpulan tentang penyebab terjadinya ini,” jelas Wegner. Salah satu kesulitan untuk menemukan keanehan seperti itu lagi, yaitu sebagian dari mereka yang memiliki kelainan akan mati tak lama setelah lahir. Seorang nelayan yang menemukan bayi ikan hiu berkepala dua ini mengatakan, “Anda akan melihat banyak keanehan kasus seperti ini. Karena mereka dibesarkan dalam penangkaran yang dapat menyebabkan anomali (keganjilan) ini,” Wenger mengamati detil penemuan ini melalui Magnetic Resonance Imaging (MRI). Hasil MRI menunjukkan bahwa hiu itu memiliki dua kepala yang berbeda, hati dan perut yang tergabung dengan sisa tubuhnya membentuk satu ekor di belakang. “Mengingat penemuan hiu itu bertepatan dengan tumpahan minyak Horizon Deepwater, saya mungkin dapat memperkirakan hiu itu terpapar, sehingga menyebabkan kelainan,” lanjut Wenger.